Huku Gehi Untuk Soga Lewo
Riwu Ngongo
Huku Gehi Untuk Soga Lewo
Agustus 02, 2018
Merilis Ulang Diskusi Akbar Versi Desa Lewotanahole:
Huku Gehi Untuk Soga Lewo
(Oleh: Agustinus Riwu)
Selasa, 27 Mei 2014 Pater Elias Doni Seda, SVD mendatangi rumah saya di Lewolere Larantuka. Pater Elias, demikian ia biasa disapa, saat itu sedang dalam perjalanan ke Lamaole untuk meninjau persiapan panitia menyongsong lima puluh tahun pembangunan gedung gereja Kristus Raja Stasi Lamaole, Paroki Ritaebang Keuskupan Larantuka. Pater Elias menugaskan kepada saya untuk menuliskan kembali dalam versi jurnalistik naskah rekaman notulen pertemuan umum masyarakat lamaole tanggal 18 september 2011. Naskah dimaksud akan menjadi salah satu naskah yang dimuat dalam bukunya seputar sejarah pertumbuhan Gereja di Lamaole.
Ada rasa senang ketika menerima tugas itu. Saya senang karena dari sekian orang yang dikenal oleh Pater Elias, saya adalah salah seorang yang dipercayakan untuk ikut menyumbangkan sesuatu bagi penerbitan buku menyongsong 50 tahun gereja Kristus Raja Lamaole. setelah Pater Elias pamit meninggalkan rumah saya untuk berangkat menuju Lamaole, saya malah bingung. Saya mengiyakannya, namun bingung, karena tidak tahu bagaimana memulainya, apa yang harus saya tulis dan dari mana harus mulai. Hingga senin, 2 Juni 2014 ketika Pater Elias kembali masuk rumah saya, belum ada satu kalimatpun yang dapat saya tulis. Malam itu Pater Elias bermalam di rumah saya. Ketika ditanya, kapan saya bisa menyelesaikannnya, masih dalam kebingungan saya jawab, secepatnya akan saya kirim lewat email ke Pater. Esoknya Pater berangkat ke Ende. Saya coba membaca ulang naskah notulen pertemuan tersebut. Puji Tuhan, dalam pergumulan mencari ide selama dua hari, akhirnya pada hari rabu, 4 Juni 2014, saya teringat akan tulisan di gerbang kampung Lamaole di Mada Matan, tapi saya tidak menghafalnya secara lengkap kalimat tulisan itu. Ketika saya bertanya kepada isteri saya, Maria Yasintha Kerong Keraf, ternyata dia juga tidak menghafal tulisan itu. Beruntung ada Eny Keban, seorang keponakan, Putri Bungsu bapak Yosep Ratu Keban yang tinggal bersama kami Lewolere. Ketika ditanya, Eny dengan mudah melafalkannya sebagai berikut: ““Lewoole Lamadoan, tana doan lamalela, lewomaku lamadoro, tana keri keka liku”.
Saya sendiri tidak paham arti tulisan tersebut, tapi dalam diskusi saya bersama istri saya Maria yasintha Keraf, tulisan itu memberi inspirasi kepada kami, kalau orang Lamaole Lemaku menempatkan diri sebagai orang yang berada pada wilayah terpencil dan jauh dari jangkauan dunia luar. Lamaole Lemaku, secara geografis terletak di desa Lewotanaole, kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur. Karena letaknya yang agak jauh dan berada pada ketinggian alias di gunung, tak pelak lagi kampong ini menjadi sebuah kampung yang agak sulit dijangkau oleh komunikasi dan sentuhan pembangunan infrastruktur. Namun orang Lamaole saat ini sudah mulai memggeliat dan menyadari kalau mereka adalah bagian dari komunitas dunia. Sebagai bagian dari komunitas dunia orang Lamaole mulai merasakan dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi.
Diprediksikan, tidak lama lagi, Lamaole yang dijuluki Lewoole Lamadoan itu akan berubah menjadi kampung yang mudah dijangkau oleh komunikasi dunia luar. Perilaku dan cara pandang masyarakat Lamaole Lemaku akan berbaur dengan perilaku dan cara pandang pendatang. Berbagai hal negatip yang timbul dan menggejala di tengah komunitas masyarakat Lamaole bakal menggiring mereka ke jurang yang dapat saja menghancurkan masa depan komunitas bila tidak diantisipasi dengan upaya-upaya pencegahan. Sementara hal-hal positip yang terjadi perlu dihidupi dan ditingkatkan terus guna menghantar Komunitas ke arah cita-cita masa depan yang baik dan bermartabat sesuai amanat leluhur yang telah diwariskan secara turun temurun. Itulah sebabnya, ketika ada kesempatan yang strategis, dengan spontan masyarakat Lamaole lemaku coba mengumpulkan pendapat dan gagasan. Peristiwa sehari setelah perayaan 25 tahun imamat Pater Yohanes Suban Gapun,SVD adalah salah satu moment paling strategis yang dimanfaatkan oleh komunitas masyarakat lamaole untuk berpikir dan berbicara tentang Lamaole ke depan. Apa kata mereka? Rekaman Notulen Pertemuan Umum Masyarakat Lamaole, dirilis dan dipersembahakan buat komunitas masyarakat Lamaole untuk meneropong apa yang sedang terjadi saat ini dan apa yang musti disikapi oleh komunitas masyarakat Lamaole-Lemaku menyongsong masa depannya.
Minggu, 11 September 2011, sehari sesudah Pesta perak Imamat Pater Yan Suban Gapun, SVD, halaman Gereja Kristus Raja Stasi Lamaole yang digunakan sebagai lokasi perayaan, bukannya sepi, malah masih dipadati oleh umat dan masyarakat Lamaole Lemaku. Sebuah pertemuan akbar versi warga masyarakat dan umat stasi lamaole ini digelar dari pukul 11:30 – 17.00. Sangat spektakuler memang, karena peserta yang hadir tidak tangung-tanggung, adalah orang lamaole yang sedang pulang kampong berkenaan dengan pesta perak Pater Yan. Ada imam, Para suster dan para perantau yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia baik dalam maupun luar negeri. Hampir mencapai 200 orang laki-laki dan perempuan ikut serta dalam pertemuan.
Doa dan Refleksi Pembuka
Pater Yan Suban Gapun SVD, yang didaulat untuk membuka pertemuan dengan doa pembuka, mengawalinya dengan pengantar yang membuat peserta diam sejenak. Dalam kata-kata awalnya Pater Yan mengatakan, pertemuan ini dilakukan dalam nama Tuhan karena ada niat dan kehendak yang baik. Mudah-mudahan pertemuan ini diberkati oleh Tuhan. Apa yang direncanakan Tuhan terkadang tak sejalan dengan apa yang direncanakan dan dibuat oleh manusia. Tetapi Tuhan tentu akan memberi berkat pada usaha dan perjuangan yang dilakukan dengan penuh ketulusan.
Menurut Pater Yan, memulai sesuatu yang positip untuk masa depan Lewotana Lamaole yang lebih baik membutuhkan inisiatip dari setiap pribadi, baik yang berada di Lewotana Lamaole maupun yang berada di perantauan. Hari ini kita memulai sesuatu yang kecil dan sederhana, tetapi bertujuan untuk meraih perkembangan dan perubahan yang lebih baik dan membanggakan. Maka marilah kita memohon kehadiran Tuhan untuk menyertai kita dalam pertemuan ini dengan doa yang diajarkan Kristus sendiri. Demikian Pater yan mengajak umat untuk membuka pertemuan dengan berdoa Bapa kami.
Bapak Agustinus Riwu, selaku moderator, menggugat forum dengan sebuah refleksi pribadinya. Walaupun dalam dirinya tidak pernah ada pertalian darah dengan orang Lamaole namun saat ini ia merasa sebagai bagian dari komunitas masyarakat Lamaole-Lemaku. Lebih lanjut ia mengatakan, dalam refleksinya ia menemukan, bahwa dalam kesehariannya, orang lamaole hidup dengan berpegang pada prinsip-prinsip tertentu agar tetap menjaga eksistensinya di Lamaole. Contohnya: program pemindahan orang lamaole ke lokasi pemukiman di Tanahedang ditolak oleh orang lamaole. Orang Lamaole itu, hidupnya mandiri, ramah, harmonis dan selalu berada dalam suasana kekeluargaan. “Inilah yang membuat saya merasa beta kalau berada di lamaole.” Demikian Kata Bapak Agus. Dan ini terbukti hingga hari ini.
Kalau dibandingkan dengan peristiwa 24 tahun lalu, ketika saya menginjakkan kaki di kampong Lamaole, jelas ada banyak perubahan yang telah terjadi di Lamaole. Lalu lintas sudah menjadi lebih baik, karena sudah ada jalan raya yang menjangkau Lamaole, walaupun tidak secara rutin setiap hari kendaraan umum masuk lamaole. Ada juga janji untuk memperbaiki jalan raya; kapan janji itu terealisasi, ya, kita tunggu saja, tapi pasti akan ada jalan yang baik menuju Lamaole. Namun pertanyaannya ialah: siapkah orang Lamaole menghadapi perubahan-perubahan yang bakal terjadi? Apakah setiap kita menyadari tanggung jawab kita sebagai orang lamaole yang mempunyai hubungan darah satu sama lain? Adakah rasa memiliki antar pribadi di kalangan warga masyarakat Lamaole, baik yang berada di Lewotana maupun yang berada di Perantauan?
Pertaanyaan dan prinsip dasar
Bagaimana masyarakat Lamaole harus menyiapkan diri dalam menghadapi perubahan-perubahan yang bakal terjadi menuju Lamaole yang lebih baik? Hal-hal mana yang perlu diperhatikan oleh orang Lamaole dalam usaha memajukan lewotana menuju Lamaole yang lebih baik?
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang Lamaole dalam usaha memajukan lewotana menuju Lamaole yang lebih baik sudah tercermin dalam beberapa prinsip dasar sebagai pegangan hidup, seperti; 1) Mula ade; pehe ta’a pege mege; hu pali pete bau, lage a’e niku woho; deka lali wato. Bao lau lolo ( dalam terjemahan bebasnya: sebagai prisnsip persatuan yang diungkapkan dalam tarian atau tandak persatuan, yang menekankan semua unsure harus berpastisipasi dalam memajaukan lewotana Lamaole. 2) mengusahakan pengembangn Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai tokoh, pelopor, penggerak, pionir dan inisiator (dalam istilah orang Lamaole: “kosoroso”). 3) mengusahkan pengembangn di bidang social, ekonomi, budaya, mental, dan kemauan.
Sumbang Saran dari Pleno
Untuk menjawabi, melengkapi pertanyaan dasar serta mengkonkretkan prinsip-prinsip dasar tersebut di atas, maka muncul sumbangsaran dari Pleno dengan berbagai aneka sudut pandang dan gagasan. Bapak Gabriel Lusi Keraf, seorang peserta yang berdomisili di Kupang menginformasikan, Rukun Maku-Ole di Kupang sudah menjalankannya dengan menggalakkan iuran peduli Lewotana Lamaole. Setiap anggota menyetor iuran sebesar Rp. 10.000/bulan. Bapak Gabriel berpesan, jangan ada perbedaan antara rukun Makuole yang satu dengan yang lain.
Menghadapi berbagai perubahan itu sebagai orang yang berdomisili di Lewotana Lamaole, Bapak Darius Baran Keraf berpendapat, pimpinan lewotana musti memiliki sikap tegas dan pandai merangkul semua unsure masyarakat untuk membangun Lamaole menuju masa depan yang lebih baik. Sebagai pemangku adat Lewotana, Bapak Darius menghimbau agar anggota komunitas masyarakat Lamaole senantiasa menghormati dan menghargai budaya dan adat lamaole. Salah satu tradisi budaya yang cukup mengikat rasa persatuan dan kebersamaan komunitas adalah pesta panen yang selalu dirayakan setiap tahun dalam bulan juni. Menurut Bapak Darius, upacara pesta panen harus disiapkan dengan baik, sehingga bisa menjadi pengalaman budaya untuk orang Lamaole yang ada di Lewotana dan yang di perantauan; juga menjadi asset wisata budaya bagi orang yang bukan asli Lamaole. Agar tradisi yang baik ini tetap lestari dari generasi ke generasi, diharapkan kiranya setiap keluarga di perantauan yang mempunyai pertalian darah sebagai orang Lamaole perlu dibangun kesadaran untuk merasa berkewajiban mengirimkan anak laki-laki ikut merayakan pesta ada syukur panen dengan menyiapkan rengki adat (semacam tumpengnya orang Jawa), pada saat upacara pesta syukur panen tersebut. Demikian pula dengan bahan-bahan untuk rengki adat, harus asli dari hasil kebun (tanaman), bukan bahan yang dibeli dari pasar. Untuk mempertahankan kebiasaan ini, harus dimulai dari warga masyarakat lamaole yang ada di Lewotana, sekalian wajib diikuti warga masyarakat lamaole di perantauan. Sementara Bapak Piter Herin sebagai warga yab berdomisili di Lamaole pun berpendapat, iuran dari Rukun Maku-Ole yang terkumpul, bisa menjadi kontribusi untuk persiapan pesta perak Pater Hendrikus Rogan ole, SVD Imam yang ketiga, asal Lamaole. Pehe ta’a pege mege harus menjadi prinsip dalam kepemimpinan supaya bisa menjamin manajemen dan disiplin yang baik.
Pater Hendrikus Rogan Ole, SVD putera Lamaole yang bermisi di Argentina Selatan saat ini, merasakan seperti ada hal-hal penting dalam hidup orang Lamaole yang sudah mulai pudar. Menurut Pater Hendrik, budaya malu mulai hilang, mental juang dan kerja, kurang nampak dalam diri sebagian orang muda di Lamaole. dalam ungkaapan bahasa Indonesia yang terpatah=patah, Pastor yang pada masa kecilnya dibentuk dalam komunitas hidup orang Lamaole itu mengajak dalam nada cukup tegas. Orang Lamaole harus menjaga rasa memiliki satu sama lain di kalangan warga masyarakat lamaole. Biar pisah raga, tapi tidak boleh pisah rasa. Unsur-unsur budaya yang positip harus dipertahankan dan menjadi dasar bagi pembentukan sikap dan perilaku orang muda, sehingga memerangi hal-hal negative yang sedang merambah di Lamaole. Pendidikan formal melalui organisasi yang dibentuk dan dijalankan oleh orang muda, perlu didukung dan dikembangkan. Sedangkan pendidikan non formal, seperti budaya tutur dalam kekuarga, harus dihidupkan dan dibudidayakan oleh setiap keluarga di Lamaole supaya generasi muda tahu adat Lamaole.
Setelah mendengar berbagai pikiran yang masuk, Imam sulung Lamaole, Pater Elias Doni Seda, SVD menandaskan, orang Lamaole jangan hanya merasa mampu, tapi harus mampu merasakan. Untuk itu, prinsip persatuan perlu dijaga dan dipegang kuat. Berpegang pada prinsip itu menurut Pater Elias, membutuhkan pengorbanan, dan hal itu adalah risiko dari sebuah keputusan yang harus diterima demi Lewotana lamaole. semua kita harus berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai hidup dan nilai-nilai budaya Lamaole demi Soga Lewo (mengangkat harkat dan martabat Kampung halaman). Menurut Pater Elias, Soga Lewo harus menjadi visi bersama semua warga masyarakat lamaole. Lebih lanjut Pater Elias mengingatkan, Pembentukan Forum Peduli Lamaole tanggal 21 Juli 2010, dapat menjadi pilar yang baik. Kerja sama Pemerintah, pimpinan agama dan tua-tua adat perlu dibangun. Kalau boleh dibuatkan perdes untuk hal-hal tertentu demi mendukung pelaksanaan program pembangunan Lewotana dan Desa, seperti; aturan dan sanksi adat. Dari sisi agama, iman umat juga perlu dipertahankan, kepedulian dan keprihatinan perlu dibangun. Pater Elias berpesan, Forum Peduli Lewotana Lamaole sudah dibentuk, namun masih terkendala soal koordinasi aantara unsur-unsur di dalam forum. Tolong diperhatikan dan dihidupkan kembali forum itu.
Sementara Pater Yohakim Sina Kolo, SVD Imam Lamaole, putera keempat yang bersama Pater Elias berdomisili di Ende mengatakan, bahwa orang asing yang datang ke Lamaole merasa terkesan, kagum dan terkesima dengan berbagai asset alam yang dimiliki orang lamaole. Bila mereka menyusuri wilayah pantai dan semakin melaju ke bukit mereka akan disuguhi pemandangan yang indah permai. Keadaan alamnya yang ramah dan berbagai perubahan yang terjadi dalam hal pembangunan di Lamaole adalah sesuatu yang positip bagi kemajuan Lamaole kelak, karena itu Pastor yang disapa dengan Pater Yoh itu berpendapat, agar orang lamaole perlu pertahankan.
Dari Rukun Maku-Ole yang ada di Ritaebang, Ibu Maria Gire Keraf angkat bicara, Rukun Maku-Ole juga sudah dibentuk di Ritaebang. Dalam nada memohon, tolong diakomodir. Demikian harapan Ibu Mia mewakili Rukun Maku-Ole di Ritaebang. Sementara Bapak arnoldus Suban Gapun yang juga berdomisili di Ritaebang merasakan sikap masa bodoh mulai membudaya dalam masyarakat lamaole. masih ada orang yang tidak berpasrtisipasi dalam setiap kegiatan di Lamaole. “Mungkin perlu Perdes yang mengikat kedisiplinan warga dalam berpastisipasi”, demikian kata Arnold, salah seorang staf di Kecamatan Solor Barat.
Bapak Kamilus Gesi Keraf dari Rukun Maku-Ole di Maumere tampil dengan anjuran dalam beberapa bidang. Di bidang ekonomi, agar diusahakan kdaulatan pangan; dan koordinasikan pelaksanaannya dengan Kepala Desa. Perlu diadakan pertemuan dan evaluasi umum tentang program kegiatan dan pelaksanaan selama satu tahun setiap kali pesta syukur panen. Perlu juga perencanaan kegiatan yang jelas untuk disampaikan kepada setiap perhimpunan atau Rukun Maku-Ole di perantauan, sedangkan setiap Rukun Maku-Ole di perantauan wajib mengusahakan iuran/dana wajib untuk diserahkan setiap tahun kepada Lewotana.
Bapak Donatus Kedang Gapun yang berdomisili di Daniwato, mengajak forum untuk mengingat kembali isi kotbah Pesta perak kemarin dan kotbah Pater Yan hari ini. Karena itu dihimbau semua warga Lamaole supaya berubahlah dari cara hidup yang lama, hidup jangan semrawut. Para orangtua diminta untuk memelihara budaya dengan memberi contoh yang baik kepada orang muda. Menurut Pak Natus, demikian beliau biasa disapa, norma adat dan budaya perlu dipertahankan dan dihidupi secara baik. Jangan mempersalahkan orang muda, tetapi harus merefleksikan diri, bahwa orangtua mesti menjadi contoh dan teladan bagi yang nuda. Dalam pengamatannya, Natus melihat, budaya dan kehidupan orang Lamaole sudah terkontaminasi: orang hidup dalam poligami, sehingga moral menjadi morat-marit. Bibit-bibit atau hal-hal negatip yang bisa menghancurkan adat istiadat dan budaya sudah mulai muncul dan semakin terasa menghantam kehidupan social religius komunitas masyarakat Lamaole-Lamaku. Karena itu Natus berpendapat, harus memulai sesuatu yang positip dengan memberdayakan diri untuk kebersamaan dan masa depan Laamaole yang lebih baik. Pendidikan tentang adat istiadat dan budaya bagi orang-orang muda harus dimulai dari hal-hal konkret dan dilakukan oleh kita semua, karena kita semua bertanggung jawab terhadap masa depan orang muda.
Kepala SDN Lamaole, Guru David Tukan, yang turut hadir dalam pertemuan itu mengatakan, budaya asli Lamaole sudah mulai terkontaminasi dan muncul budaya baru yang dikarang-karang. Banyak generasi muda sudah mulai lupa atau meninggalkan budaya. Di bidang ekonomi, sebenarnya ada potensi komoditas yang bisa diusahakan, namun belum digunakan dan dikembangkan secara maksimal. Kalau dicermati, menurut Guru asal Ritaebang ini, sebenarnya orang Lamaole secara mental, punya potensi untuk dapat mengembangkan semua yang telah ada ini. dalam konteks ini, keluarga punya pean penting dalam menanamkan sikap cinta budaya bagi generasi muda. Sementara Guru Yuven Niron dari SDK Tanalein, menggarisbawahi pendapat guru David, harus dilaksanakan sosialisasi budaya kepada generasi muda, sehingga generasi muda juga mengetahui dengan baik adat istiadat, kebuasaan dan budaya di klamaole.
Menanggapi berbagai sorotan yang ditujukan kepada orang muda, seorang aktivis orang muda Yeremias Kewuan yang berdomisili di Larantuka, angkat bicara. Para pelajar dan mahasiswa asal Lamaole sudah memprakarsai seminar pada tanggal 1-3 Juli 2010 di Lamaole dengan menghadirkan Pemateri dari oang asli Lamaole, Yakni : Bapak Yakob Jati Herin, Bapak Marianus Bulin, Bapak Petrus Kera Kewuan dan Pater Elias doni seda, SVD dan dihadiri oleh warga masyarakat Lamaole. Ini adalah sesuatu yang baik, dan perlu didukung supaya diteruskan.
Dari Rukun Maku-Ole Lewoleba, Bapak Sipri Kaya Seda mengatakan, yang menjadi akar permasalahan adalah sikap mental, di mana yang salah dan keliru dibiarkan saja. Pada akhirnya hal yang salah dan keliru itu menjadi budaya baru. Hanya karena menjaga perasaan, orang sulit mengoreksi yang keliru itu. Demi menjaga perasaan itu, lalu orang hanya bisa mengatakan “tidak apa-apa” atau dalam bahasa dan dialeg setempat “le’e”. Menurut Sipri, biarpun orang punya materi berlimpah, ada uang dan fasilitas hidup memadai tapi kalau rendah mentalitasnya, maka tidak ada manfaatnya sama sekali atau “lauk tahi” (dalam dialeg setempat). Lebih lanjut Bapak yang berdomisili di negeri ikan paus ini, mengharapkan agar dilakukan pendataan tehadap semua warga masyarakat Lamaole yang berada di perantauan, biar tidak ada yang dilupakan.
Pater Yohanes Suban Gapun SVD, sang Yubilaris yang duduk diam di tengah proses diskusi yang kian marak itu pun angkat bicara. Bertolak dari berbagai kecemasan para pembicara terdahulu, Pastor yang berkarya di Dili Timor leste ini barkata. Budaya perlu dijaga. Jangan sampai kisah Lamaole seperti kisah Timor leste, Australia, Jepang atau banyak Negara lain yang sudah melupakan akar budaya. Karena lupa dengan akar budaya, hidupnya menjadi kering dan haus akan budaya. Pengalaman orang Bali bahwa agama dan budaya Bali adalah satu kesatuan dan merupakan satu keaslian yang perlu diperyahankan. “Apakah budaya dan agama katolik bisa menjadi satu dengan adat dan budaya Lamaole?”, Tantang Pater Yan. Lebih lanjut Pater Yan mengatakan, orang Jepang dan Australia merasakan adanya pebedaan budaya Timor Leste dan Timor Barat. Orang Timor Lesta rupanya tidak siap menghadapi perubahan post modern yang terjadi. Banyak nilai budayanya mulai hilang dan di mana-. mana muncul hal-hal negatif. Budaya bakar, prostitusi, mengagungkan uang, pencemaran lingkungan, hewan-hewan bekeliaran bebas menjadi pemandangan yang kian marak di sana. Karena itu Pater yan menghimbau, Rukun Maku-Ole perlu belajar dari pengalaman orang Timor Leste dan belajar juga dari pengalaman orang Bali. Berusahalah untuk saling membantu dalam mempertahankan keaslian adat dan budaya sambil menyesuaikan diri dengan perkembangan positip dari kemajuan zaman ini.
Selaku kepala desa Lewotanaole di Lamaole, Bapak Laurensius Loli Kewuan dengan tebuka menyampaikan, banyak hal positif yang layak untuk dipertahankan dan dikembangkan. Masih ada kekurangan yang mesti diperbaiki. Karena itu Sebagai Pimpinan Pemerintahan Desa Lorens mengajak, semua elemen masyarakat untuk bbekerja sama. “Jika Kepala Desa sebagai pemimpin, merangkul untuk kegiatan yang baik dan positif, maka masyarakat diharapkan turut berpastisipasi”. Demikian kata Kepala desa, seraya mengharapkan, agar perlu ada pertemuan yang dilaksanakan setiap tahun.
Salah seorang Perempuan Pegiat dari kota Kupang, Ibu Marha Barek Kewuan juga hadir.. Ibu yang satu ini memang tidak bebicara banyak dalam pertemuan akbar versi Lamaole ini, tapi sudah berbuat banyak untuk masyarakat dan umat stasi Lamaole ketika orang Lamaole dipaksa pindah pemukiman dari Lamaole ke Tanahedang. Ibu yang pernah menjadi guru SDK Lamaole (tempo doeloe) ini hanya menyampaiakan, ia sudah sejak dahulu kala berjuang untuk masyarakat lamaole. Ibu Martha berharap, semoga perjuangan itu tetap dihargai dan diteruskan oleh warga masyarakat Lamaole yang berkemauan baik.
Di ujung pertemuan, Bapak Anton Daton Seda, salah seorang sesepu yang berdomisiki di Kupang menegaskan beberapa hal dari percakapan yang memakan waktu hampir enam jam lebih itu. Antara lain Bapak Anton menyampaikan, bahwa ada perubahan dari sisi tranportasi yang dulu hanya dengan berjalan kaki, walaupun hanya dikerjakan dengan cara manual tenaga manusia tapi saat ini sudah ada jalan yang diretas masuk Lamaole sehingga kendaraan roda dua, roda empat, bahkan roda enam dapat menghantar masuk dan keluar penumpang dari luar dan dari Lamaole sendiri. Dari sisi moral, menurut Bapak Anton, meskipun pintu rumah tebuka lebar, tetapi kondisi keamanan masih terjaga. Karena itu bapak Anton menghimbau, masyarakat Lamaole harus tetap mempertahankan hal-hal yang positip dan mengembangkan yang sudah ada. Dan dalam nada spontan dikatakan, visi kita sudah ada yaitu, “soga Lewo”. Dan visi itu mmengarahkan kita pada pada misi, yaitu hal-hal konkret yang bisa kita laksanakan nanti ke depan.
Kesepakatan-kesepakatan
Pertemuan yang cukup menguras waktu, pikiran dan tenaga, bahkan menunda acara makan siang itu menghasilkan Visi Lamaole: SOGA LEWO. Sedangkan misi dipercayakan kepada sebuah team yang diketuai Pater Elias Doni Seda, SVD bersama anggota yang dipercayakan kepada ketua untuk menentukannya dengan beberapa kesepakatan sebagai intisari pertemuan adalah sebagai berikut: 1) Visi, Soga Lewo menuju Lamaole yang lebih baik dan sejahtera. 2) Berpegang teguh pada prinsip yang yang diwariskan dalam kata-kata bijak: Deka tali wato, bau teto lolon…; hu pali pete bau, lage a’e niku waho. Juga Mula ade; pehe ta’a pege mege; hu pali pete bau, lage a’e niku woho; deka lali wato. Bao lau lolo. Dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), sebagai pelopor atau penggerak atau inisiator dalam semangat “kosoroso” (kosoroso mengandung ajakan untuk berhati-hati dan tidak gegabah mengambil keputusan, sambil mempertimbangkannya secara matang dan jeli ). 3) Membentuk dan menghidupkan semua Rukun Maku-Ole di perantauan dan usaha menggalang iuran peduli Lewotana dalam rangka membantu upaya pembangunan di Lewotana pada segala bidang. 4) Pendataan warga Maku-Ole di perantauan. Untuk menyukseskan pendataan ini forum secara spontan menunjuk Koordinator di setiap wilayah yang terbaca dalam table berikut ini:
No
Nama Rukun Maku-Ole
Nama Koordinator
1.
Tanalein
Bapak Guru Yuven Niron
2.
Ritaebang
Bapak Arnod Gapun + Ibu Maria Gire Keraf
3.
larantuka
Bapak Simeon Kewuren + Bapak Aloysius Jati Herin
4.
Hokeng
Bapak Yosef Kewuan + Bapak Marsel Gapun
5.
Maumere
Bapak Kamilus Gesi Keraf
6.
Ende
Bapak Markus Gapun
7.
Lembata
Bapak Sipri Kaya Seda
8.
Kupang
Bapak Gabriel Lusi Keraf
9.
Atambua/Timor Leste
Bapak Jemi Bulin + Bapak Bruno Keraf
10.
Kalimantan
Ibu Veronika Kewuan
11.
Malaysia
Bapak Hendrik Keban + Bapak Wilhem L. Kolo
12.
Surabaya
Bapak Yoris Bulin
13.
Jakarta
Ibu Venny Bulin + Bapak Nas Bulin
14.
Gorontalo
Bapak Bernardus Wato Ole
5) Forum Peduli Lewotana. Forum Peduli Lewotana sudah dibentuk di lamaole pada tanggal 21 Juli 2010. Forum ini terdiri dari unsure Pimpinan Desa, Pemuka Adat (Koten, Kelen, Hurin, Maran), Dewan Stasi, dan Pemimpin Umat. Kiranya Forum ini tetap bekerja untuk mengakomdasikan semua aspirasi dalam rangka membangun Lewotana Lamaole. 6) Iklim Sosial Budaya dan Keagamaan. Arus perkembangan transportasi dan sarana komunikasi yang sudah semakin merambah ke lamaole (dalam hal ini jalan raya dan handphone atau HP), sangat mempengaruhi iklim atau suasana social budaya dan keagamaan di Lewotaana. Pada gilirannya, akan sangat mempengaruhi system nilai social, budaya, adat istiadat dan keagamaan. Karena itu para orangtua harus mewaspadai hal ini dengan memperhatikan pendidikan nilai bagi anak-anak di dalam keluarga masing-masing. 7) Pesta Adat Syukur Panen (Wu’u). Pesta adat syukur panen atau Wu’u dengan Rengki Adat (Pige) harus diatur kembali secara baik dan teratur menurut tata cara penyelenggaraan adat Wu’u dengan memperhatikan hal-hal berikut: setiap rukun di perantauan harus mengirim utusannya dan menyiapkan sebuah Rengki adat (Pige). Setiap Pige harus menyajikan makanan dari bahan pangan local, hasil tanaman dari kebun dan dan ikan dari hasil tangkapan sendiri. Yang mengambil bagian dalam makan Rengki Adat (Pige) harus berpakaian adat Lamaole. Pada saat pesta adat Syukur Panen, diadakan pertemuan umum untuk membuat evaluasi tentang perkembangan di Lewotana. Untuk itu perlu dipikirkan supaya dibangun kembali Koke Bale dan Nuba Naran dengan wilayah pelatarannya (Neme). Untuk menghindari hal-hal negatif yang dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat lamaole, maka perlu mensosialisasikan nilai-nilai social, budaya, adat istiadat dan keagamaan kepada generasi muda melalui proses pembelajaran di bidang seni tari, seni music, seni tenun ikat, seni anyam dan ukir juga adat pertanian yang dimulai dengan Mula-ade, belo-bahi, tuba-sika, oru-geta, su-lera, here-po’o, wuo-nama, dan lain-lainnya.
Diakhir pertemuan, disepakati pula, agar semuanya ini dapat dilaksanakan secara baik dan teratur, maka hal-hal tertentu perlu dibuatkan peraturan khusus, semacam perdes atau bisa juga peraturan dari Pemimpin Umat, Dewan Stasi dan Pemuka Adat. Proficiat.
Komentar
Posting Komentar