Peletak dasar kampung Jawawawo
Riwu
Ngongo
Peletak
dasar kampung Jawawawo
Siang
itu, Jumad Agung 18 April 2014, Siprianus Nggajo duduk santai di beranda depan
rumahnya. Bersama dengan putra sulungnya Agustinus Riwu yang lagi berlibur
sekalian merayakan paskah bersama di kampong. Matanya yang masih terang menyusuri beberapa
obyek warisan leluhur di halaman
rumahnya. Ada Basa damba, sejenis rumah adat, tempat penyimpanan berbagai
perlengkapan budaya berupa Gong Gendang,
sejenis alat music tradisional. Ngadhu,
ukiran manusia laki-laki dewasa, symbol leluhur yang merintis terbentuknya komunitas
kampong. Ada meja batu, sebuah kubur
yang terbuat dari batu dalam bentuk meja. Nampak pula di halaman bahagian
selatan ; Peo, ukiran kayu bercabang dua, symbol leluhur perempuan dengan beaneka
ragam lukisan yang hanag bisa dipahami oleh para
tetua adat.
Ada pula rumah kecil dan kubur tua para leluhur yang ditandai dengan batu
berdiri.
Pria berusia 82 tahun
ini asli kampong Jawawawo desa Kotowuji Timur Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo
Flores NTT. Ame Go’o Kade atau Sipi Nggajo, demikian ia biasa disapa
dan dikenal
di kampungnya, adalah Kepala Suku Riwu
Ngongo di Kampung Jawawawo. Dalam sejarah komunitas masyarakat adat Jawawawo
Riwu Ngongo adalah juga nama leluhur, orang pertama, orang paling awal yang mendirikan rumah dan
membangun kampong Jawawawo.
Di sebelah utara
kampong, sebuah gunung berdiri menjulang dengan megahnya. Kedi Koto, demikian
sebutannya dalam bahasa setempat. Dari gunung inilah sejarah komunitas
masyarakat Jawawawo dimulai. Dikisahkan,
ketika itu Riwu Ngongo bersama saudara (kakaknya) yang bernama Mado menjalani
kehidupan hariannya di Kedi Koto di sebuah kampong tua di jaman dahulu. Seperti
biasanya, komunitas kampong ada tradisi
perayaan kampong, komunitas ini juga mempunyai perayaan besar kampong yang
mereka namakan “pala”. Pala, adalah perayaan besar komunitas kampong yang
melibatkan semua anggota dan suku tanpa kecuali. Dalam perayaan ini semua
anggota komunitas kampong berpasrtisipasi, dengan menyumbangkan dana berupa bahan makanan dan korban dalam bentuk hewan seperti babi,
kerbau atau ayam. Kerbau yang
akan menjadi korban dalam perayaan
puncak, sehingga menjadi korban utama.
Turun dari Gunung Koto
Turun dari Gunung Koto
Dipicu oleh peristiwa tragis, ketika anak-anak bermain
menirukan perayaan pala. Sebagaimana biasanya permainan, tidak semua yang
ditampilkan itu asli. Semuanya menggunakan simbol atau pengandaian. Salah satu
pengandaian adalah bahan korban utama. Ketika itu anak-anak menggantikan bahan
korban utama kerbau dengan salah beberapa anak. Hanya sayangnya, ketika kerbau
mau disembelih, acara penyembelihannya tidak menggunakan simbol-simbolan, tapi
anak-anak yang menggantikan kerbau itu disembelih secara sungguhan. Darahpun
berceceran di seluryh kampung. Peristiwa ini membuat orang sekampung panik.
Melihat ini sebagai sebuah bencana yang
harus dihindari. Semua keluarga dan sukupun minggat dan lari meninggalkan
kampung. Masing-masing mencari jalanya sendiri.
Riwu dan Mado bersama dengan keluarganya turun dari
gunung dengan tidak melupakan harta kekayaan mereka berupa gong gendang dan
menetap di sebuah kampung yang diberi nama Wuji. Di Wuji ini keduanya
mendirikan mezbah dan membangun kampung dan membawa serta adat istiadat dan
tradisi dari gunung Koto. Keduanya menempati kampung Wuji dalam rentang waktu
cukup lama sampai melahirkan anak cucu.
Pemekaran kampung
Dalam keseharian, Mado dan Riwu tetap menjalani kebiasaan
yang diwariskan leluhur mereka. Mereka
membangun Peo dan mezbah-mezbah (.....................) dan
tempat-tempat menyembahan di kampung Wuji dan juga mencari nafkah dengan
menjalani kehidupan bertani dan beternak. Sebagai kakak, Mado menjalani hidup
bertani di sekitar kampungnya di wuji sedangkan Riwu mencari tempat yang agak
jauh dari kampung wuji. Dalam sebuah kesempatan terjadi lagi musibah menimpa
Riwu Ngongo. Mezbah, tempat penyembahan Riwu Ngongo terbakar. Kejdian ini
disebabkan oleh kurang hati-hatinya anak-anak Mado, ketika membakar ladang yang
mengakibatkan terbakarnya mezbah kepunyaan Riwu Ngongo. Riwu Ngonngo meminta
pertanggung jawaban kakaknya atas musibah yang menimpa dirinya itu. Tuntutan
Riwu ngongo “ta isi tora dimarua ta ae tora dimarua” artinya:artinya Mado harus
memberikan kepada Riwu Ngongo tujuh lahan basah dan tujuh lahan kering, atau
tujuh lahan datar dan tujuh lahan miiring. Namun Mado tidak mampu memenuhi
tuntutannya itu. Tanpa ada pertumpahan darah Riwu Ngongo menyatakan, dengan
tidak memutuskan tali persaudaraan dan kekeluargaan. Riwu Ngongo tetap mengakui
Mado sebagai kakak, tapi Riwu Ngongo meninggalkan Wuji dan menetap di tempat
baru yang dia beri nama Jawawawo. Di Jawawawo ini Riwu Ngongo membangun kampung
(koe nua kadi oda), sekaligus mendirikan Peo dari pohon reo (peo muri).
Komentar
Posting Komentar