Nado Mere Jawawawo

 NILAI DAN SIMBOL RELIGIUS PERJAMUAN RAYA (NADO 

MERE) MASYARAKAT JAWAWAWO: STUDI KOMPARATIF 

INKULTURATIF DENGANNILAI-NILAI EKARISTI1


Hendrikus Primus Siu

Abstrak

Khasanah budaya yang kaya dalam satu masyarakat tertentu akan sangat berpengaruh terhadap cara beriman mereka kepada Tuhannya. Dalam konteks tertentu, kebudayaan yang sudah ada sejak lama bahkan seblum satu agama muncul pada satu masyarakat, akan memberi pengaruh yang cukup kuat terhadap cara masyarakat tersebut mengimani dan besyukur kepada Allah. Tulisan ini memetakan nilai-nilai religius perjamuan raya masyarakat Jawawawo, yang ada pada pala peo weda enda (upacara korban seputar peo dan enda) dan nilai-nilai yang ada pada Ekaristi. Berdasarkan pemetaan terhadap nilai-nilai itu dibuat suatu sintesa untuk menemukan komparasi antara keduanya, baik pada pala peo weda enda maupun Ekaristi. Sintesa antara nilai-nilai pala peo weda enda dan Ekaristi ini diharapkan menjadi peretas jalan untuk proses inkulturasi atau kontekstualisasi iman Katolik ke dalam kebudayaan Jawawawo.

Kata Kunci: simbol, perjamuan raya, komparasi, ekaristi.

1. Ekaristi, oleh umat beriman Katolik diyakini memiliki kekuatan atau daya yang menyelamatkan,membebaskan dan mempersatukan.Karena daya guna Ekaristi yang mengagumkan itu, Gereja tanpa ragu-ragu menjadikannya sebagai pusat dan puncak dari seluruh kehidupan iman Kristen. Tetapi persoalan kemudian muncul ketika gagasan-gagasan teologis serta nilai-nilai yang terkandung dalam Ekaristi serta praksis liturgis dan pastoralnya harus diselaraskan dengan nilai-nilai kebudaytaan umat  setempat, seperti umat beriman Katolik di Jawawawo (Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, KecamatanKeo Tengah, Kabupaten Nagekeo, propinsi Nusa Tenggara Timur) sebab Allahpun juga mau menyelamatkan mereka.Lebih dari tujuh puluh lima tahun orang Jawawawo menjadi Katolik dan serentak mereka menjadi orang Jawawawo dengan ciri budaya yang khas sebagai warisan para leluhur mereka. Dalam momen dan periode tertentu mereka selalu melaksanakan pala peo(upacara korban kerbau seputar peo) yang memuncakpadanado mere(perjamuan raya) serta weda enda(korban babi seputar enda) yang  memuncak pada lombo lindi(pemangkasan ujung atap dari alang-

alang). Dalam pala peo weda endaitu terkandung pula nilai-nilai religius dan sosial yang diyakini memiliki kekuatan untuk menyelamatkan, membebaskan dan menghidupkan seperti yang ada dalam Ekaristi. 

 

NILAI DAN SIMBOL RELIGIUS PERJAMUAN RAYA (NADO 

MERE) MASYARAKAT JAWAWAWO: STUDI KOMPARATIF 

INKULTURATIF DENGAN NILAI-NILAI EKARISTI1

Hendrikus Primus Siu

Abstrak

Khasanah budaya yang kaya dalam satu masyarakat tertentu akan sangat berpengaruh 

terhadap cara beriman mereka kepada Tuhannya. Dalam konteks tertentu, kebudayaan 

yang sudah ada sejak lama bahkan seblum satu agama muncul pada satu masyarakat, 

akan memberi pengaruh yang cukup kuat terhadap cara masyarakat tersebut 

mengimani dan besyukur kepada Allah. Tulisan ini memetakan nilai-nilai religius 

perjamuan raya masyarakat Jawawawo, yang ada pada pala peo weda enda (upacara 

korban seputar peo dan enda) dan nilai-nilai yang ada pada Ekaristi. Berdasarkan 

pemetaan terhadap nilai-nilai itu dibuat suatu sintesa untuk menemukan komparasi 

antara keduanya, baik pada pala peo weda enda maupun Ekaristi. Sintesa antara nilainilai pala peo weda enda dan Ekaristi ini diharapkan menjadi peretas jalan untuk 

proses inkulturasi atau kontekstualisasi iman Katolik ke dalam kebudayaan Jawawawo.

Kata Kunci: simbol, perjamuan raya, komparasi, ekaristi.

Pengantar

1.

Ekaristi, oleh umat beriman Katolik diyakini memiliki kekuatan atau daya yang 

menyelamatkan, membebaskan dan mempersatukan. Karena daya guna Ekaristi yang 

mengagumkan itu, Gereja tanpa ragu-ragu menjadikannya sebagai pusat dan puncak 

dari seluruh kehidupan iman Kristen. Tetapi persoalan kemudian muncul ketika 

gagasan-gagasan teologis serta nilai-nilai yang terkandung dalam Ekaristi serta praksis 

liturgis dan pastoralnya harus diselaraskan dengan nilai-nilai kebudayaan umat 

setempat, seperti umat beriman Katolik di Jawawawo (Paroki Hati Kudus Yesus 

Maunori, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, propinsi Nusa Tenggara Timur

sebab Allahpun juga mau menyelamatkan mereka. Lebih dari tujuh puluh lima tahun 

orang Jawawawo menjadi Katolik dan serentak mereka menjadi orang Jawawawo 

dengan ciri budaya yang khas sebagai warisan para leluhur mereka. Dalam momen dan 

periode tertentu mereka selalu melaksanakan pala peo (upacara korban kerbau seputar 

peo) yang memuncak pada

nado mere (perjamuan raya) serta weda enda (korban babi 

seputar enda) yang memuncak pada lombo lindi (pemangkasan ujung atap dari alangalang). Dalam pala peo weda enda itu terkandung pula nilai-nilai religius dan sosial 

yang diyakini memiliki kekuatan untuk menyelamatkan, membebaskan dan 

menghidupkan seperti yang ada dalam Ekaristi. 

1 Tulisan ini adalah ringkasan karya ilmiah (tesis) penulis pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik 

Ledalero-Maumere Flores, November 2012

Akan tetapi, baik nilai-nilai yang terdapat pada Ekaristi maupun dalam pala peo weda endatidak serta merta disimpulkan memiliki kesamaan konseptual dan praksis pelaksanaannya. Sebab itu, dalam batas-batas dan kaidah-kaidah tertentu mesti dilakukan inkulturasi, yakni suatu interaksi antara iman Katolik dengan kebudayaan asli sehingga terjadi kebudayaan baru yang Kristiani. Dalam konteks Jawawawo, inkulturasi berarti interaksi antara nilai-nilai Kristiani (Katolik) dengan kebudayaan asli Jawawawo sehingga terjadi kebudayaan baru, yakni kebudayaan Kristiani orang Jawawawo. Dalam kebudayaan yang baru itu, orang Jawawawo menjadiKatolik tanpa kehilangan identitas mereka yang lokal. 

2.Upacara Kurban Seputar  PeoDan Enda 2.1.Monumen Budaya Peo

Menurut  Forth,  pee adalah peralatan-peralatan  korban (instruments of sacrifice). 2Proses inti pendirian peo terdiri dari pertama, Ramba Topo Taka (mengasah parang dan kapak). Ramba topo takadilaksanakan pada malam hari yaitu semalam sebelum para utusan pergi menebang kayu bakal peo. Hewan yang dikurbankan untuk ritual ramba topo taka adalah kerbau. 

Keesokan harinya, setelah ramba topo taka,para utusan (semuanya laki-laki) pergi menebang pohon embu (cassia vistula) yang telah dipilih (dipinang). Kedua, Kobi lunga.Arti harafiah dari kobi lungaadalah mengeringkan keringat. Tahap ini dilaksanakan pada hari pertama kayu bakal peomasuk kampung Jawawawo. Makna pokok dari ritual kobi lungaadalah ucapan syukur karena telah berhasil meminang dan membawa pulang pohon calon peo. Hewan ternak yang disembelih adalah kerbau. Ketiga,  Nenu nia(bercermin wajah). Setelah selesai diukir, peodiangkat dari tempat ukir menuju ke tengah kampung. Pemindahanpeodari tempat ukir ke tempat tanam dilakukan melalui suatu prosesi yang disertai dengan tabuhan gong-gendang dan tari-tarian (medo).Sebelum itupeolama telah dicabut (kedhu)dan disimpan dalam suatu tempat rahasia. Pada tempat  peoyang lama juga sudah digali lubang untuk meletakkan peobaru. Ketika peo baru telah sampai di dekat lubang tanam, para kepala suku bersama-sama memasukkan pangkal peoke dalam lubang. Proses mencabut peoyang lama dan menanam peoyang baru dalam istilah adat setempat dikenal dengan sebutan kedhu ta mewu-pusi ta muri (pemugaran).3

Intensi untuk ritual nenu nia adalah mohon keselamatan, rezeki, umur yang panjang, kesembuhan dari penyakit, dan berkat.4 Keempat, Reko. Philipus Tule mendefenisikan reko sebagai tarian yang dibawakan dengan cara berjalan melingkar 


2Gregory Forth, Dualism And Hierarchy: Processes of Binary Combination in Keo Society (Oxford: Oxford Univesity Press, 2001), hlm.51.  

3Siprianus Nggajo, Umur 80 Tahun, Jabatan Kepala Suku Jawawawo, Tinggal Jawawawo, Wawancara 13 Januari 2012. Siprianus Nggajo adalah Turunan dari Sati putera kedua Riwu Ngongo. Bapak Siprianus Nggajo sekarang menjadi kepala dekeRiwu Ngongo, ia juga adalah pelaku sejarah pala tahun 1954 dan tahun 2002. 

4Ignasius Legho, Umur 82 Tahun, Pendidikan VVS, Wawancara Tanggal 13 Januari 2012

sambil menyanyikan mantra tradisional dan sejarah. Arah gerakan atau lingkaran  berlawanan dengan arah jarum jam. Lagu dalam reko dinyanyikan dalam tempo yang lambat, serius dengan isi yang berkaitan dengan ritual, sejarah dan mitologi kampung.5


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERAYAAN EKARISTI KAUL KEKAL

SYAIR LAMAHOLOT LAMAOLE

Peletak dasar kampung Jawawawo