Huku Gehi Untuk Soga Lewo
Merilis
Ulang Diskusi Akbar Versi Desa Lewotanahole:
Huku Gehi
Untuk Soga Lewo
(Oleh:
Agustinus Riwu)
Selasa, 27 Mei 2014 Pater Elias Doni Seda, SVD mendatangi rumah saya
di Lewolere Larantuka. Pater Elias, demikian ia biasa disapa, saat itu sedang dalam
perjalanan ke Lamaole untuk meninjau persiapan panitia menyongsong lima puluh
tahun pembangunan gedung gereja Kristus Raja Stasi Lamaole, Paroki Ritaebang
Keuskupan Larantuka. Pater Elias menugaskan kepada saya untuk menuliskan kembali
dalam versi jurnalistik naskah rekaman
notulen pertemuan umum masyarakat lamaole tanggal 18 september 2011. Naskah
dimaksud akan menjadi salah satu naskah yang dimuat dalam bukunya seputar sejarah
pertumbuhan Gereja di Lamaole.
Ada rasa senang ketika menerima tugas itu. Saya senang karena dari
sekian orang yang dikenal oleh Pater
Elias, saya adalah salah seorang yang dipercayakan untuk ikut menyumbangkan
sesuatu bagi penerbitan buku menyongsong 50 tahun gereja Kristus Raja Lamaole.
setelah Pater Elias pamit meninggalkan rumah saya untuk berangkat menuju
Lamaole, saya malah bingung. Saya mengiyakannya, namun bingung, karena tidak tahu bagaimana
memulainya, apa yang harus saya tulis dan dari mana harus mulai. Hingga senin, 2 Juni 2014 ketika Pater Elias kembali
masuk rumah saya, belum ada satu kalimatpun yang dapat saya tulis. Malam itu
Pater Elias bermalam di rumah saya. Ketika ditanya, kapan saya bisa
menyelesaikannnya, masih dalam kebingungan
saya jawab, secepatnya akan saya kirim lewat email ke Pater. Esoknya Pater
berangkat ke Ende. Saya coba membaca ulang naskah notulen pertemuan tersebut. Puji Tuhan, dalam pergumulan mencari ide
selama dua hari, akhirnya pada hari rabu, 4 Juni 2014, saya teringat akan
tulisan di gerbang kampung Lamaole di Mada Matan, tapi saya tidak menghafalnya
secara lengkap kalimat tulisan itu. Ketika
saya bertanya kepada isteri saya, Maria Yasintha Kerong Keraf, ternyata
dia juga tidak menghafal tulisan itu. Beruntung ada Eny Keban, seorang keponakan,
Putri Bungsu bapak Yosep Ratu Keban yang tinggal bersama kami Lewolere. Ketika
ditanya, Eny dengan mudah melafalkannya sebagai berikut: ““Lewoole Lamadoan,
tana doan lamalela, lewomaku lamadoro, tana keri keka liku”.
Saya sendiri tidak paham arti
tulisan tersebut, tapi dalam diskusi saya bersama istri saya Maria yasintha
Keraf, tulisan itu memberi inspirasi
kepada kami, kalau orang Lamaole Lemaku
menempatkan diri sebagai orang yang berada pada wilayah terpencil dan jauh dari jangkauan dunia luar. Lamaole
Lemaku, secara geografis terletak di
desa Lewotanaole, kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur. Karena
letaknya yang agak jauh dan berada pada ketinggian alias di gunung, tak pelak
lagi kampong ini menjadi sebuah kampung yang agak sulit dijangkau oleh
komunikasi dan sentuhan pembangunan infrastruktur. Namun
orang Lamaole saat ini sudah mulai memggeliat dan menyadari kalau mereka adalah
bagian dari komunitas dunia. Sebagai bagian
dari komunitas dunia orang Lamaole mulai merasakan dampak yang ditimbulkan oleh
kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi.
Diprediksikan, tidak lama lagi, Lamaole yang dijuluki Lewoole
Lamadoan itu akan berubah menjadi kampung yang mudah dijangkau oleh komunikasi
dunia luar. Perilaku dan cara pandang masyarakat Lamaole Lemaku akan berbaur
dengan perilaku dan cara pandang pendatang. Berbagai hal negatip yang timbul
dan menggejala di tengah komunitas masyarakat Lamaole bakal menggiring mereka
ke jurang yang dapat saja menghancurkan masa depan komunitas bila tidak
diantisipasi dengan upaya-upaya pencegahan. Sementara hal-hal positip yang
terjadi perlu dihidupi dan ditingkatkan terus guna menghantar Komunitas ke arah
cita-cita masa depan yang baik dan bermartabat sesuai amanat leluhur yang telah
diwariskan secara turun temurun. Itulah sebabnya, ketika ada kesempatan yang
strategis, dengan spontan masyarakat Lamaole lemaku coba mengumpulkan pendapat
dan gagasan. Peristiwa sehari setelah perayaan 25 tahun imamat Pater Yohanes
Suban Gapun,SVD adalah salah satu moment paling strategis yang dimanfaatkan
oleh komunitas masyarakat lamaole untuk berpikir dan berbicara tentang Lamaole
ke depan. Apa kata mereka? Rekaman Notulen Pertemuan Umum Masyarakat Lamaole, dirilis
dan dipersembahakan buat komunitas masyarakat Lamaole untuk meneropong apa yang
sedang terjadi saat ini dan apa yang musti disikapi oleh komunitas masyarakat
Lamaole-Lemaku menyongsong masa depannya.
Minggu, 11 September 2011, sehari sesudah Pesta perak Imamat Pater
Yan Suban Gapun, SVD, halaman Gereja Kristus Raja Stasi Lamaole yang digunakan
sebagai lokasi perayaan, bukannya sepi, malah masih dipadati oleh umat dan
masyarakat Lamaole Lemaku. Sebuah pertemuan akbar versi warga masyarakat dan umat
stasi lamaole ini digelar dari pukul 11:30 – 17.00. Sangat spektakuler memang,
karena peserta yang hadir tidak
tangung-tanggung, adalah orang lamaole yang sedang pulang kampong berkenaan
dengan pesta perak Pater Yan. Ada imam, Para suster dan para perantau yang
berdatangan dari berbagai penjuru dunia baik dalam maupun luar negeri. Hampir
mencapai 200 orang laki-laki dan perempuan ikut serta dalam pertemuan.
Doa dan Refleksi Pembuka
Pater Yan Suban Gapun SVD, yang
didaulat untuk membuka pertemuan dengan doa pembuka, mengawalinya dengan
pengantar yang membuat peserta diam sejenak. Dalam kata-kata awalnya Pater Yan
mengatakan, pertemuan ini dilakukan dalam nama Tuhan karena ada niat dan kehendak yang baik.
Mudah-mudahan pertemuan ini diberkati oleh Tuhan. Apa yang direncanakan Tuhan terkadang tak
sejalan dengan apa yang direncanakan dan dibuat oleh manusia. Tetapi Tuhan
tentu akan memberi berkat pada usaha dan perjuangan yang dilakukan dengan penuh
ketulusan.
Menurut Pater Yan, memulai sesuatu yang positip untuk masa depan
Lewotana Lamaole yang lebih baik membutuhkan inisiatip dari setiap pribadi,
baik yang berada di Lewotana Lamaole maupun yang berada di perantauan. Hari ini
kita memulai sesuatu yang kecil dan sederhana, tetapi bertujuan untuk meraih
perkembangan dan perubahan yang lebih baik dan membanggakan. Maka marilah kita
memohon kehadiran Tuhan untuk menyertai kita dalam pertemuan ini dengan doa
yang diajarkan Kristus sendiri. Demikian Pater yan mengajak umat untuk membuka
pertemuan dengan berdoa Bapa kami.
Bapak Agustinus Riwu, selaku moderator, menggugat forum dengan
sebuah refleksi pribadinya. Walaupun dalam dirinya tidak pernah ada pertalian
darah dengan orang Lamaole namun saat ini ia merasa sebagai bagian dari
komunitas masyarakat Lamaole-Lemaku. Lebih lanjut ia mengatakan, dalam
refleksinya ia menemukan, bahwa dalam
kesehariannya, orang lamaole hidup dengan berpegang pada prinsip-prinsip
tertentu agar tetap menjaga eksistensinya di Lamaole. Contohnya: program pemindahan orang lamaole
ke lokasi pemukiman di Tanahedang
ditolak oleh orang lamaole. Orang Lamaole itu, hidupnya mandiri, ramah,
harmonis dan selalu berada dalam suasana
kekeluargaan. “Inilah yang membuat saya merasa beta kalau berada di
lamaole.” Demikian Kata Bapak Agus. Dan
ini terbukti hingga hari ini.
Kalau dibandingkan dengan
peristiwa 24 tahun lalu, ketika saya menginjakkan kaki di kampong Lamaole, jelas
ada banyak perubahan yang telah terjadi di Lamaole. Lalu lintas sudah menjadi
lebih baik, karena sudah ada jalan raya yang menjangkau Lamaole, walaupun tidak
secara rutin setiap hari kendaraan umum masuk lamaole. Ada juga janji untuk memperbaiki jalan raya;
kapan janji itu terealisasi, ya, kita tunggu saja, tapi pasti akan ada jalan
yang baik menuju Lamaole. Namun pertanyaannya ialah: siapkah orang Lamaole
menghadapi perubahan-perubahan yang bakal terjadi? Apakah setiap kita menyadari
tanggung jawab kita sebagai orang lamaole yang mempunyai hubungan darah satu
sama lain? Adakah rasa memiliki antar pribadi di kalangan warga masyarakat
Lamaole, baik yang berada di Lewotana maupun yang berada di Perantauan?
Pertaanyaan dan prinsip dasar
Bagaimana masyarakat Lamaole harus menyiapkan diri dalam
menghadapi perubahan-perubahan yang bakal terjadi menuju Lamaole yang lebih
baik? Hal-hal mana yang perlu diperhatikan
oleh orang Lamaole dalam usaha
memajukan lewotana menuju Lamaole yang lebih baik?
Hal-hal yang perlu
diperhatikan oleh orang Lamaole dalam
usaha memajukan lewotana menuju Lamaole yang lebih baik sudah tercermin dalam
beberapa prinsip dasar sebagai pegangan hidup, seperti; 1) Mula ade; pehe ta’a
pege mege; hu pali pete bau, lage a’e niku woho; deka lali wato. Bao lau lolo (
dalam terjemahan bebasnya: sebagai
prisnsip persatuan yang diungkapkan dalam tarian atau tandak persatuan, yang
menekankan semua unsure harus berpastisipasi dalam memajaukan lewotana Lamaole.
2) mengusahakan pengembangn Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai tokoh, pelopor,
penggerak, pionir dan inisiator (dalam istilah orang Lamaole: “kosoroso”). 3)
mengusahkan pengembangn di bidang social, ekonomi, budaya, mental, dan kemauan.
Sumbang Saran dari Pleno
Untuk menjawabi, melengkapi pertanyaan dasar
serta mengkonkretkan prinsip-prinsip dasar tersebut di atas, maka muncul
sumbangsaran dari Pleno dengan berbagai
aneka sudut pandang dan gagasan. Bapak Gabriel Lusi Keraf, seorang peserta yang
berdomisili di Kupang menginformasikan, Rukun Maku-Ole di Kupang sudah
menjalankannya dengan menggalakkan iuran
peduli Lewotana Lamaole. Setiap anggota menyetor iuran sebesar Rp.
10.000/bulan. Bapak Gabriel berpesan, jangan ada perbedaan antara rukun Makuole
yang satu dengan yang lain.
Menghadapi berbagai perubahan itu sebagai orang yang
berdomisili di Lewotana Lamaole, Bapak Darius Baran Keraf berpendapat, pimpinan lewotana musti memiliki
sikap tegas dan pandai merangkul semua unsure masyarakat untuk membangun
Lamaole menuju masa depan yang lebih baik. Sebagai pemangku adat Lewotana,
Bapak Darius menghimbau agar anggota komunitas masyarakat Lamaole senantiasa
menghormati dan menghargai budaya dan adat lamaole. Salah satu tradisi budaya
yang cukup mengikat rasa persatuan dan kebersamaan komunitas adalah pesta panen
yang selalu dirayakan setiap tahun dalam bulan juni. Menurut Bapak Darius,
upacara pesta panen harus disiapkan dengan baik, sehingga bisa menjadi
pengalaman budaya untuk orang Lamaole yang ada di Lewotana dan yang di
perantauan; juga menjadi asset wisata budaya bagi orang yang bukan asli
Lamaole. Agar tradisi yang baik ini
tetap lestari dari generasi ke generasi, diharapkan kiranya setiap keluarga di
perantauan yang mempunyai pertalian darah sebagai orang Lamaole perlu dibangun
kesadaran untuk merasa berkewajiban mengirimkan anak laki-laki ikut merayakan
pesta ada syukur panen dengan menyiapkan rengki adat (semacam tumpengnya orang
Jawa), pada saat upacara pesta syukur panen tersebut. Demikian pula dengan
bahan-bahan untuk rengki adat, harus asli dari hasil kebun (tanaman), bukan
bahan yang dibeli dari pasar. Untuk mempertahankan kebiasaan ini, harus dimulai
dari warga masyarakat lamaole yang ada di Lewotana, sekalian wajib diikuti
warga masyarakat lamaole di perantauan. Sementara Bapak Piter Herin sebagai
warga yab berdomisili di Lamaole pun berpendapat, iuran dari Rukun Maku-Ole
yang terkumpul, bisa menjadi kontribusi untuk persiapan pesta perak Pater
Hendrikus Rogan ole, SVD Imam yang ketiga,
asal Lamaole. Pehe ta’a pege mege harus menjadi prinsip dalam
kepemimpinan supaya bisa menjamin manajemen dan disiplin yang baik.
Pater Hendrikus Rogan Ole, SVD putera
Lamaole yang bermisi di Argentina Selatan saat ini, merasakan seperti ada hal-hal
penting dalam hidup orang Lamaole yang sudah mulai pudar. Menurut Pater
Hendrik, budaya malu mulai hilang, mental juang dan kerja, kurang nampak dalam
diri sebagian orang muda di Lamaole. dalam ungkaapan bahasa Indonesia yang
terpatah=patah, Pastor yang pada masa kecilnya dibentuk dalam komunitas hidup
orang Lamaole itu mengajak dalam nada cukup tegas. Orang Lamaole harus menjaga
rasa memiliki satu sama lain di kalangan warga masyarakat lamaole. Biar pisah
raga, tapi tidak boleh pisah rasa. Unsur-unsur budaya yang positip harus
dipertahankan dan menjadi dasar bagi pembentukan sikap dan perilaku orang muda,
sehingga memerangi hal-hal negative yang sedang merambah di Lamaole. Pendidikan
formal melalui organisasi yang dibentuk dan dijalankan oleh orang muda, perlu
didukung dan dikembangkan. Sedangkan pendidikan non formal, seperti budaya
tutur dalam kekuarga, harus dihidupkan dan dibudidayakan oleh setiap keluarga
di Lamaole supaya generasi muda tahu adat Lamaole.
Setelah mendengar berbagai pikiran
yang masuk, Imam sulung Lamaole, Pater Elias Doni Seda, SVD menandaskan, orang
Lamaole jangan hanya merasa mampu, tapi harus mampu merasakan. Untuk itu,
prinsip persatuan perlu dijaga dan dipegang kuat. Berpegang pada prinsip itu
menurut Pater Elias, membutuhkan pengorbanan, dan hal itu adalah risiko dari
sebuah keputusan yang harus diterima demi Lewotana lamaole. semua kita harus
berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai hidup dan nilai-nilai budaya Lamaole
demi Soga Lewo (mengangkat harkat dan martabat Kampung halaman). Menurut Pater
Elias, Soga Lewo harus menjadi visi bersama semua warga masyarakat lamaole. Lebih lanjut Pater Elias mengingatkan,
Pembentukan Forum Peduli Lamaole tanggal 21 Juli 2010, dapat menjadi pilar yang
baik. Kerja sama Pemerintah, pimpinan agama dan tua-tua adat perlu dibangun.
Kalau boleh dibuatkan perdes untuk hal-hal tertentu demi mendukung pelaksanaan
program pembangunan Lewotana dan Desa, seperti; aturan dan sanksi adat. Dari
sisi agama, iman umat juga perlu dipertahankan, kepedulian dan keprihatinan
perlu dibangun. Pater Elias berpesan, Forum Peduli Lewotana Lamaole sudah
dibentuk, namun masih terkendala soal koordinasi aantara unsur-unsur di dalam
forum. Tolong diperhatikan dan dihidupkan kembali forum itu.
Sementara Pater Yohakim Sina Kolo,
SVD Imam Lamaole, putera keempat yang bersama Pater Elias berdomisili di Ende mengatakan, bahwa orang
asing yang datang ke Lamaole merasa terkesan, kagum dan terkesima dengan
berbagai asset alam yang dimiliki orang lamaole. Bila mereka menyusuri wilayah
pantai dan semakin melaju ke bukit
mereka akan disuguhi pemandangan yang indah permai. Keadaan alamnya yang ramah
dan berbagai perubahan yang terjadi dalam hal pembangunan di Lamaole adalah
sesuatu yang positip bagi kemajuan Lamaole kelak, karena itu Pastor yang disapa
dengan Pater Yoh itu berpendapat, agar
orang lamaole perlu pertahankan.
Dari Rukun Maku-Ole yang ada di Ritaebang, Ibu Maria
Gire Keraf angkat bicara, Rukun Maku-Ole
juga sudah dibentuk di Ritaebang. Dalam
nada memohon, tolong diakomodir. Demikian harapan Ibu Mia mewakili Rukun
Maku-Ole di Ritaebang. Sementara Bapak arnoldus Suban Gapun yang juga
berdomisili di Ritaebang merasakan sikap masa bodoh mulai mebudaya dalam
masyarakat lamaole. masih ada orang yang tidak berpasrtisipasi dalam setiap
kegiatan di Lamaole. “Mungkin perlu Perdes yang mengikat kedisiplinan warga
dalam berpastisipasi”, demikian kata Arnold, salah seorang staf di Kecamatan
Solor Barat.
Bapak Kamilus Gesi Keraf dari
Rukun Maku-Ole di Maumere tampil dengan anjuran dalam beberapa bidang. Di
bidang ekonomi, agar diusahakan kdaulatan pangan; dan koordinasikan
pelaksanaannya dengan Kepala Desa. Perlu diadakan pertemuan dan evaluasi umum
tentang program kegiatan dan pelaksanaan selama satu tahun setiap kali pesta
syukur panen. Perlu juga perencanaan kegiatan yang jelas untuk disampaikan
kepada setiap perhimpunan atau Rukun Maku-Ole di perantauan, sedangkan setiap
Rukun Maku-Ole di perantauan wajib mengusahakan iuran/dana wajib untuk diserahkan setiap tahun kepada
Lewotana.
Bapak Donatus Kedang Gapun yang
berdomisili di Daniwato, mengajak forum untuk mengingat kembali isi kotbah
Pesta perak kemarin dan kotbah Pater Yan hari ini. Karena itu dihimbau semua
warga Lamaole supaya berubahlah dari cara hidup yang lama, hidup jangan
semrawut. Para orangtua diminta untuk memelihara budaya dengan memberi contoh
yang baik kepada orang muda. Menurut Pak Natus, demikian beliau biasa disapa,
norma adat dan budaya perlu dipertahankan dan dihidupi secara baik. Jangan
mempersalahkan orang muda, tetapi harus merefleksikan diri, bahwa orangtua
mesti menjadi contoh dan teladan bagi yang nuda. Dalam pengamatannya, Natus
melihat, budaya dan kehidupan orang Lamaole sudah terkontaminasi: orang hidup
dalam poligami, sehingga moral menjadi morat-marit. Bibit-bibit atau hal-hal
negatip yang bisa menghancurkan adat istiadat dan budaya sudah mulai muncul dan
semakin terasa menghantam kehidupan social religius komunitas masyarakat
Lamaole-Lamaku. Karena itu Natus
berpendapat, harus memulai sesuatu yang positip dengan memberdayakan diri untuk
kebersamaan dan masa depan Laamaole yang lebih baik. Pendidikan tentang adat
istiadat dan budaya bagi orang-orang muda harus dimulai dari hal-hal konkret
dan dilakukan oleh kita semua, karena kita semua bertanggung jawab terhadap
masa depan orang muda.
Kepala SDN Lamaole, Guru David
Tukan, yang turut hadir dalam pertemuan itu mengatakan, budaya asli Lamaole
sudah mulai terkontaminasi dan muncul budaya baru yang dikarang-karang. Banyak
generasi muda sudah mulai lupa atau meninggalkan budaya. Di bidang ekonomi,
sebenarnya ada potensi komoditas yang bisa diusahakan, namun belum digunakan
dan dikembangkan secara maksimal. Kalau dicermati, menurut Guru asal Ritaebang
ini, sebenarnya orang Lamaole secara mental, punya potensi untuk dapat
mengembangkan semua yang telah ada ini. dalam konteks ini, keluarga punya pean
penting dalam menanamkan sikap cinta budaya bagi generasi muda. Sementara Guru
Yuven Niron dari SDK Tanalein, menggarisbawahi pendapat guru David, harus
dilaksanakan sosialisasi budaya kepada generasi muda, sehingga generasi muda
juga mengetahui dengan baik adat istiadat, kebuasaan dan budaya di klamaole.
Menanggapi berbagai sorotan yang
ditujukan kepada orang muda, seorang aktivis orang muda Yeremias Kewuan yang
berdomisili di Larantuka, angkat bicara. Para pelajar dan mahasiswa asal
Lamaole sudah memprakarsai seminar pada
tanggal 1-3 Juli 2010 di Lamaole dengan
menghadirkan Pemateri dari oang asli Lamaole, Yakni : Bapak Yakob Jati Herin,
Bapak Marianus Bulin, Bapak Petrus Kera Kewuan dan Pater Elias doni seda, SVD
dan dihadiri oleh warga masyarakat Lamaole. Ini
adalah sesuatu yang baik, dan perlu didukung supaya diteruskan.
Dari Rukun Maku-Ole Lewoleba,
Bapak Sipri Kaya Seda mengatakan, yang menjadi akar permasalahan adalah sikap
mental, di mana yang salah dan keliru dibiarkan saja. Pada akhirnya hal yang
salah dan keliru itu menjadi budaya baru.
Hanya karena menjaga perasaan, orang sulit mengoreksi yang keliru itu.
Demi menjaga perasaan itu, lalu orang hanya bisa mengatakan “tidak apa-apa”
atau dalam bahasa dan dialeg setempat “le’e”. Menurut Sipri, biarpun orang
punya materi berlimpah, ada uang dan fasilitas hidup memadai tapi kalau rendah
mentalitasnya, maka tidak ada manfaatnya sama sekali atau “lauk tahi” (dalam
dialeg setempat). Lebih lanjut Bapak yang berdomisili di negeri ikan paus ini,
mengharapkan agar dilakukan pendataan tehadap semua warga masyarakat Lamaole
yang berada di perantauan, biar tidak ada yang dilupakan.
Pater Yohanes Suban Gapun SVD,
sang Yubilaris yang duduk diam di tengah proses diskusi yang kian marak itu pun
angkat bicara. Bertolak dari berbagai kecemasan para pembicara terdahulu,
Pastor yang berkarya di Dili Timor leste ini barkata. Budaya perlu dijaga.
Jangan sampai kisah Lamaole seperti kisah Timor leste, Australia, Jepang atau
banyak Negara lain yang sudah melupakan akar budaya. Karena lupa dengan akar
budaya, hidupnya menjadi kering dan haus akan budaya. Pengalaman orang Bali
bahwa agama dan budaya Bali adalah satu kesatuan dan merupakan satu keaslian
yang perlu diperyahankan. “Apakah budaya dan agama katolik bisa menjadi satu
dengan adat dan budaya Lamaole?”, Tantang Pater Yan. Lebih lanjut Pater Yan mengatakan, orang
Jepang dan Australia merasakan adanya pebedaan budaya Timor Leste dan Timor
Barat. Orang Timor Lesta rupanya tidak siap menghadapi perubahan post modern
yang terjadi. Banyak nilai budayanya mulai hilang dan di mana-. mana muncul hal-hal negatif. Budaya bakar,
prostitusi, mengagungkan uang, pencemaran lingkungan, hewan-hewan bekeliaran
bebas menjadi pemandangan yang kian marak di sana. Karena itu Pater yan
menghimbau, Rukun Maku-Ole perlu belajar dari pengalaman orang Timor Leste dan
belajar juga dari pengalaman orang Bali. Berusahalah untuk saling membantu
dalam mempertahankan keaslian adat dan budaya sambil menyesuaikan diri dengan
perkembangan positip dari kemajuan zaman ini.
Selaku kepala desa Lewotanaole di Lamaole, Bapak
Laurensius Loli Kewuan dengan tebuka menyampaikan, banyak hal positif yang
layak untuk dipertahankan dan dikembangkan. Masih ada kekurangan yang mesti
diperbaiki. Karena itu Sebagai Pimpinan Pemerintahan Desa Lorens
mengajak, semua elemen masyarakat untuk bbekerja sama. “Jika Kepala Desa
sebagai pemimpin, merangkul untuk kegiatan yang baik dan positif, maka
masyarakat diharapkan turut berpastisipasi”. Demikian kata Kepala desa, seraya
mengharapkan, agar perlu ada pertemuan yang dilaksanakan setiap tahun.
Salah seorang Perempuan Pegiat
dari kota Kupang, Ibu Marha Barek Kewuan juga hadir.. Ibu yang satu ini memang
tidak bebicara banyak dalam pertemuan akbar versi Lamaole ini, tapi sudah
berbuat banyak untuk masyarakat dan umat stasi Lamaole ketika orang Lamaole
dipaksa pindah pemukiman dari Lamaole ke
Tanahedang. Ibu yang pernah menjadi guru SDK Lamaole (tempo doeloe) ini hanya
menyampaiakan, ia sudah sejak dahulu kala berjuang untuk masyarakat lamaole.
Ibu Martha berharap, semoga perjuangan itu tetap dihargai dan diteruskan oleh
warga masyarakat Lamaole yang berkemauan baik.
Di ujung pertemuan, Bapak Anton
Daton Seda, salah seorang sesepu yang berdomisiki di Kupang menegaskan beberapa
hal dari percakapan yang memakan waktu hampir enam jam lebih itu. Antara lain
Bapak Anton menyampaikan, bahwa ada perubahan dari sisi tranportasi yang dulu
hanya dengan berjalan kaki, walaupun hanya dikerjakan dengan cara manual tenaga
manusia tapi saat ini sudah ada jalan yang diretas masuk Lamaole sehingga
kendaraan roda dua, roda empat, bahkan roda enam dapat menghantar masuk dan
keluar penumpang dari luar dan dari Lamaole sendiri. Dari sisi moral, menurut
Bapak Anton, meskipun pintu rumah tebuka lebar, tetapi kondisi keamanan masih
terjaga. Karena itu bapak Anton menghimbau, masyarakat Lamaole harus tetap
mempertahankan hal-hal yang positip dan mengembangkan yang sudah ada. Dan dalam
nada spontan dikatakan, visi kita sudah ada yaitu, “soga Lewo”. Dan visi itu
mmengarahkan kita pada pada misi, yaitu hal-hal konkret yang bisa kita
laksanakan nanti ke depan.
Kesepakatan-kesepakatan
Pertemuan yang cukup menguras
waktu, pikiran dan tenaga, bahkan menunda acara makan siang itu menghasilkan
Visi Lamaole: SOGA LEWO. Sedangkan misi dipercayakan kepada sebuah team yang
diketuai Pater Elias Doni Seda, SVD bersama anggota yang dipercayakan kepada
ketua untuk menentukannya dengan beberapa kesepakatan sebagai intisari
pertemuan adalah sebagai berikut: 1) Visi, Soga Lewo menuju Lamaole yang lebih
baik dan sejahtera. 2) Berpegang teguh pada prinsip yang yang diwariskan dalam
kata-kata bijak: Deka tali wato, bau teto lolon…; hu pali pete bau, lage a’e
niku waho. Juga Mula ade; pehe ta’a pege mege; hu pali pete bau, lage a’e niku
woho; deka lali wato. Bao lau lolo. Dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM),
sebagai pelopor atau penggerak atau inisiator dalam semangat “kosoroso”
(kosoroso mengandung ajakan untuk berhati-hati dan tidak gegabah mengambil
keputusan, sambil mempertimbangkannya secara matang dan jeli ). 3) Membentuk
dan menghidupkan semua Rukun Maku-Ole di perantauan dan usaha menggalang iuran
peduli Lewotana dalam rangka membantu upaya pembangunan di Lewotana pada segala
bidang. 4) Pendataan warga Maku-Ole di perantauan. Untuk menyukseskan pendataan
ini forum secara spontan menunjuk Koordinator di setiap wilayah yang terbaca dalam
table berikut ini:
No
|
Nama Rukun Maku-Ole
|
Nama Koordinator
|
1.
|
Tanalein
|
Bapak Guru Yuven Niron
|
2.
|
Ritaebang
|
Bapak Arnod Gapun + Ibu Maria
Gire Keraf
|
3.
|
larantuka
|
Bapak Simeon Kewuren + Bapak
Aloysius Jati Herin
|
4.
|
Hokeng
|
Bapak Yosef Kewuan + Bapak
Marsel Gapun
|
5.
|
Maumere
|
Bapak Kamilus Gesi Keraf
|
6.
|
Ende
|
Bapak Markus Gapun
|
7.
|
Lembata
|
Bapak Sipri Kaya Seda
|
8.
|
Kupang
|
Bapak Gabriel Lusi Keraf
|
9.
|
Atambua/Timor Leste
|
Bapak Jemi Bulin + Bapak Bruno
Keraf
|
10.
|
Kalimantan
|
Ibu Veronika Kewuan
|
11.
|
Malaysia
|
Bapak Hendrik Keban + Bapak
Wilhem L. Kolo
|
12.
|
Surabaya
|
Bapak Yoris Bulin
|
13.
|
Jakarta
|
Ibu Venny Bulin + Bapak Nas
Bulin
|
14.
|
Gorontalo
|
Bapak Bernardus Wato Ole
|
5) Forum Peduli Lewotana. Forum Peduli Lewotana sudah
dibentuk di lamaole pada tanggal 21 Juli 2010. Forum ini terdiri dari unsure
Pimpinan Desa, Pemuka Adat (Koten, Kelen, Hurin, Maran), Dewan Stasi, dan
Pemimpin Umat. Kiranya Forum ini tetap bekerja untuk mengakomdasikan semua
aspirasi dalam rangka membangun Lewotana Lamaole. 6) Iklim Sosial Budaya dan
Keagamaan. Arus perkembangan transportasi dan sarana komunikasi yang sudah
semakin merambah ke lamaole (dalam hal ini jalan raya dan handphone atau HP),
sangat mempengaruhi iklim atau suasana social budaya dan keagamaan di
Lewotaana. Pada gilirannya, akan sangat mempengaruhi system nilai social,
budaya, adat istiadat dan keagamaan. Karena itu para orangtua harus mewaspadai
hal ini dengan memperhatikan pendidikan nilai bagi anak-anak di
dalam keluarga masing-masing. 7) Pesta Adat Syukur Panen (Wu’u). Pesta adat
syukur panen atau Wu’u dengan Rengki Adat (Pige) harus diatur kembali secara
baik dan teratur menurut tata cara penyelenggaraan adat Wu’u dengan
memperhatikan hal-hal berikut: setiap rukun di perantauan harus mengirim
utusannya dan menyiapkan sebuah Rengki adat (Pige). Setiap Pige harus
menyajikan makanan dari bahan pangan local, hasil tanaman dari kebun dan dan
ikan dari hasil tangkapan sendiri. Yang mengambil bagian dalam makan Rengki Adat
(Pige) harus berpakaian adat Lamaole. Pada saat pesta adat Syukur Panen,
diadakan pertemuan umum untuk membuat evaluasi tentang perkembangan di
Lewotana. Untuk itu perlu dipikirkan supaya dibangun kembali Koke Bale dan Nuba
Naran dengan wilayah pelatarannya (Neme). Untuk menghindari hal-hal negatif
yang dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat lamaole, maka perlu
mensosialisasikan nilai-nilai social, budaya, adat istiadat dan keagamaan
kepada generasi muda melalui proses pembelajaran di bidang seni tari, seni
music, seni tenun ikat, seni anyam dan ukir juga adat pertanian yang dimulai
dengan Mula-ade, belo-bahi, tuba-sika, oru-geta, su-lera, here-po’o, wuo-nama,
dan lain-lainnya.
Diakhir pertemuan, disepakati
pula, agar semuanya ini dapat dilaksanakan secara baik dan teratur, maka
hal-hal tertentu perlu dibuatkan peraturan khusus, semacam perdes atau bisa
juga peraturan dari Pemimpin Umat, Dewan Stasi dan Pemuka Adat. Proficiat.
Komentar
Posting Komentar