DESKRIPSI SILSILAH SUKU RIWU NGONGO


DESKRIPSI SILSILAH SUKU RIWU NGONGO



GENERASI PERTAMA:[1]
v Riwu Ngongo bersaudara dengan Mado  yang secara bersama-sama turun dari Koto dan menetap di Wuji. Selama beberapa waktu keduanya menjalani kehidupan di Wuji. Riwu ngongo meninggalkan Wuji setelah ada peristiwa kebakaran yang menimpa tempat sesajian milik Riwu Ngongo. Peristiwa ini terjadi secara tidak sengaja dilakukan Mado Tai ketika musim kerja kebun saat Mado membakar daun-daunan dan kayu kering yang ditebangnya untuk membersihkan lahan yang siap ditanam.
v Oleh kejadian tersebut secara manusiawi Riwu Ngongo tentu merasa kecewa terhadap kakaknya. Namun Riwu Ngongo tidak mau bermusuhan dengan kakaknya. Ia mencari cara terbaik dan menghindari perkelahian antara keduanya. Dengan cara yang sangat bijak, Riwu Ngongo merundingkan kepada saudaranya untuk meninggalkan wuji dan pergi menetap di tempat yang baru.
v Dari hasil perundingan  kedua bersaudara  itu bersepakat; Mado Tai tetap menetap di Wuji sedangkan Riwu Ngongo meninggalkan Wuji untuk pergi ke tempat yang baru yang kemudian diberi nama tempat itu “Jawawawo”.  Selanjutnya dalam relasi sebagai sudara keduanya tidak putus, tetapi soal hak, masing-masing mempunyai otonomi. Dalam arti ini sesuai otonomi yang telah disepakati itu masing-masing boleh mengurus rumah tangganya, sekaligus membangun rumah dan juga otonomi secara politik pada masa itu. Sehingga masing-masing boleh membangun kampungnya (koe nua kadi oda, mbui nua oda, mbui peo enda). Mado di Wuji sedangkan Riwu Ngongo di Jawawawo.
v Keterikatan dan rasa persaudaraan antara Riwu dengan Mado diwariskan secara turun temurun kepada anak cucu mereka sampai saat ini, sehingga setiap kali ada hajatan kampong yang bersiafat umum keduanya saling mengundang untuk menhadirinya. Memang demikian yang terjadi, bila di Wuji ada acara hajatan yang bersifat adat komunitas kampong, maka komunitas masyarakat adat Jawawawo pasti diundang Ikut ambil bagian.
v Riwu ngongo menikah dengan seorang gadis yang bernama Bebe. Dari perkawinannya dikaruniaia empat orang anak. Dua laki-laki dan dua perempuan yang diberi nama :Kolo Bebe (laki-laki), Sati Bebe (laki-laki) dan   Kondo Bebe (perempuan), dan Mbupu Bebe(perempuan).
.
GENERASI KEDUA:
v Kolo Bebe menikah dengan gadis bernama Tolo dan dikaruniai tiga anak; yaitu Nida (perempuan), Kami (laki-laki), Riwu ( laki-laki. Riwu anak laki-laki diambil oleh pamannya menjadi ana mera di Sa’o Sumbu witu.
v Sati Bebe menikah dengan gadis bernama Tuku, memperoleh dua anak laki-laki, yaitu Menge dan Nggajo.
GENERASI KETIGA
Menge  berdominsili di Pu’u Kodi. Sedang Nggajo menikah dengan Ndu’a Mbena dan memperoleh tiga anak; Wona Ndua (perempuan), Ndona Ndua (laki-laki) dan Mogi Ndua(perempuan). Wona Ndu’a tidak punya turunan.
GENERASI KEEMPAT
v Ndona Ndu’a menikah dengan Eju Dhele memmperoleh lima anak perempuan tanpa anak laki-laki. Kelima putri Ndona Ndua; Wea Eju, Nggo Eju, Tuku Eju, Ndu’a Eju. Setelah Eju Dhele meninggal, Ndona Ndu’a menikah lagi dengan Podu Noi dari Boawae dan melahirkan Mamo Podu anak perempuan yang kemudian melahirkan Ngga’e Mamo. Podu Noi meninggal, lalu Ndona Ndu’a kawin lagi dengan seorang gadis asal Nuamuri dan menghasilkan anak; Reo Sina, Nenu Sina, Ito Sina dan Bhoko Sina.

GENERASI KELIMA
v Reo Sina menikah dengan Bene Dhema dan melahirkan Damianus Bhia (Piatu),   berdomisili di pulau Jawa. Setelah Bene Dhema meninggal, Reo Sina menikah lagi dengan Agnes Dalo melahirkan seorang putri Emi Ndu’a. Pernikahan Reo Sina dengan Agnes Dalo tidak bertahan lama, lalu Agnes Dalo dipulangkan ke orangtuanya secara adat (tu ne’e Nggo damba). Ito Sina dan Bhoko Sina tidak ada keturunan.
v Sementara Nenu Sina menikah dengan salah seorang Parjurit Belanda dan berdomisilli di tanah Timor. Salah seorang keturunan Nenu Sina per2nah berupaya kembali ke kampong Jawawawo. Rupanya terjadi salah infformasi tentang nama kampong maka ia nyasar di sebuah kampong di wilayah Kabupaten Ende, yaitu Raja Wawo namanya. Di sana ia tidak menemukan keluarga Riwu Ngongo, sehingga ia kembali ke tanah Timor. Belakangan baru di ketahui, orang rajawawo menceritakan bahwa pernah ada orang mencari keluarga Riwu Ngongo di Rajawawo.
v Mogi Ndua  menikah dengan pemuda Romba dan mempunyai empat orang anak laki-laki; Nggajo Mogi, Legho Mogi, Gani Mogi, Meo Mogi dan Nago Mogi. Kalau Ndona Ndu’a hanya punya anak perempuan, maka Mogi Ndu’a hanya punya anak laki-laki. Sebagaimana lazimnya dalam komunitas masyarakat Nagekeo (Jawawawo), bila saudara laki-laki tidak punya anak laki-laki, maka dia boleh mengangkat salah seorang keponakan dalam hal ini seorang putra saudarinya untuk meneruskan hak warisannya. Nggajo Mogi, salah seorang anak Mogi Ndu’a adalah putra terpilih yang diangkat resmi dengan tata cara adat Jawawawo (tambu ne’e nggo damba) kembali bergabung dalam suku Riwu Ngongo sebagai “ana mera.”[2] Dengan resminya Nggajo bergabung sebagai anak suku Riwu Ngongo, maka Nggajo tercatat sebagai putra Ndona Ndu’a, sehingga namanya berubah dari Nggajo Mogi menjadi Nggajo Eju. Sedangkan posisi Nggajo dalam keluarga Mogi Ndu’a digantikan dengan Medi Eju, Putri dari Ndona Ndu’a. Nama Medi Eju berubah menjadi Medi Mogi.[3]
v Pada masa Ndona Ndu’a suku Riwu Ngongo  menghadapi gejolak perang dengan komunitas masyarakat sekitarnya. Situasi ini membuat Ndona Ndu’a harus memiliki orang-orang kepercayaan yang mampu melawan musuh. Bagi Ndona Ndu’a orang-orang yang bisa dipercaya adalah orang-orang yang masih mempunyai hubungan darah dekat dengan dia. Maka para keponakannya  bersama anak-anak mereka  bergabung lagi dalam suku Riwu Ngongo membangun kekuatan.   Di antaranya:
1.      Wea Eju bersama anaknya Daga Wea  ( anak cucunya  Wona Ndu’a)
2.       Legho Mogi  Beke Go’o ( anak cucunya)
3.      Medi Eju yang bertukar tempat dengan Nggajo di Romba bersama anaknya Gani Eju.
Oleh jasa-jasa mereka dalam keikutsertaanya mempertahankan keberadaan suku Riwu Ngongo dan nua oda Jawawawo, maka keturunan Wea Eju, Legho Mogi dan Medi Eju diakui   sebagai bagian dari anak cucu suku Riwu Ngongo yang sah.

GENERASI KELIMA
v  Nggajo (Mogi) Eju  menikah dengan Eju Ea dan melahirkan empat orang anak laki-laki, yaitu; Goa Eju, Siga Eju, Bhala Eju, Wuda Eju. Goa Eju sebagai anak sulung diserahkan menjadi “ana mera”[4] di Mauara/Witu, menjaga warisan di rumah embu mame. Pada masa Nggajo Eju suku Riwu Ngongo dihadapkan dengan masalah kemanusiaan. Mere mbewu yang terlilit hutang tidak mampu membayar utangnya terhadap Muta Kasi dari Romba. Mere Mbewu berutang tiga  dinar dalam bahasa setempat joo ka bhaki tedu terhadap Muta Kasi  sebutan mata uang dinar pada masa itu. Karena Mere Mbewu tidak mampu melunasi hutang tiga dinar terhadap Muta Kasi, ia bersama keluarganya ditangkap dan diikat dengan tali oleh Mutakasi dan anak buahnya. Diseret dari Pu’u Wuwu (sebutan sebatang pohon besar yang tumbuh di sebelah timur kampong Jawawawo, tempat Mere Mbewu bersembunyi dari pelariaannya karena dikejar hutang) ke tengah kampong. Mutakasi menawarkan kepada orang sekampung Jawawawo, bagi yang mau membayar hutang Mere Mbewu, maka Mutakasi akan menyerahkan Mere Mbewu dan keluarganya kepada orang yang menebus utang tiga dinar tersebut. Mere Mbewu yang terlilit hutang juga meminta bantuan orang sekampung. Nggajo Mogi/Eju bersama Eju Ea (sang istri) jatuh hati lalu menebusnya dengan mata uang tiga dinar dengan sebuah perjanjian: Mere Mbewu bersedia menjalani tugas “Sao ae nggae kaju, wesi peni kema ngema, sutu api pui mbeku” untuk keluarga Nggajo Eju bila hutangnya dibayar lunas oleh  Nggajo Mogi/Eju dan Eju Ea. Oleh rasa kemanusiaan yang tinggi, Nggajo Mogi/Eju menolong dengan membayar tiga dinar kepada Mutakasi. Selanjutnya, Mere Mbewu bersama istri  dan anaknya tinggal di Sao Mere (di Kolong rumah). Tugas Mere Mbewu adalah sesuai dengan kesepakatan awal, menjalani pekerjaan Sao ae nggae kaju, wesi peni kema ngema, sutu api pui mbeku (pekerjaan seorang hamba yang diperhalus dengan bahasa setempat ana odo yang  atau dalam bahasa boawae ana kapo. [5]  Kehadiran Mere Mbewu dan anak cucunya di tengah keluarga Riwu Ngongo, bukan sebagai anggota suku, apalagi kepala suku, namun sebagai orang asing yang boleh hadir selama masih setia dengan perjanjian awal Mere Mbewu terhadap Nggajo Mogi/Eju dan keturunannnya.

GENERASI KEENAM
v  Pada masa ini Suku Riwu Ngongo dikepalai, Siga Eju putra dari Nggajo Mogi/Eju dan Eju Ea. Sebagai Kepala Suku, Siga Eju didampingi saudara-saudaranya, Bhala Eju, Wuda Eju dan anak-anak dari para saudari yang kembali menetap di Sao Mere di antaranya:
1.      Putra dari Wea Eju (Daga Wea),
2.      Putra dari Legho Mogi (Beke Go’o)
3.      Putra dari Medi Eju (Nikolaius Gani Medi).
v  Satu peristiwa penting yang di catat dalam masa Siga Eju di tahun 1954 komunitas masyarakat Jawawawo memugar Peo.[6].
v Siga Eju menikah dengan Kade Mbupu (asal Witu) dan dikaruniai dua anak laki-laki dan tiga anak perempuan; Sipri Nggajo (laki-laki), Thomas Bongo (Laki-laki), Klara Pajo (perempuan), Lusia Mogi (Perempuan) dan Monika Bebe (perempuan).
v Wuda Eju dan Bhala Eju tidak menikah, sehingga tidak ada keturunan.
v Daga Wea menikah dengan Owa Bai (dari Giriwawo) melahirkan dua anak laki-laki (Ignatius Legho dan Silvester Goa) dan satu anak perempuan Go’o Eju.
v Beke Go’o menikah dengan Ari Ema melahirkan satu anak laki-laki yang diberi nama Damianus Ta’a dan tiga anak perempuan (Mina Ari, Maria Go’o Ari dan Ester Tolo.
v Nikolaus Gani menikah dengan Benedikta Wuda melahirkan dua anak laki-laki (Domi Juma dan Lanus Ta’a) dan dua anak perempuan (Klara Wea dan Veronika Wonga).

GENERASI KETUJUH

v Pada masa ini Suku Riwu Ngongo dikomandoi oleh Siprianus Nggajo Kade. Bersama saudara kandungnya, Thomas Bongo dan sepupunya, Ignatius Legho Owa, Sil Goa Owa, Damianus Ta’a Ari, Domi Juma dan Lanus Ta’a.
v Siprianus Mggajo menikah dengan Maria Pajo dari Mauara, melahirkan empat anak laki-laki (Agustinus Riwu Pajo, Hirardus Daga Pajo, Falentinus Goa Pajo, Blasius Riwu Pajo), tiga anak perempuan (Fransiska Eju Pajo, Yuliana Eju Pajo, Bernadetha Eju Pajo).
v Thomas Bongo menikah dengan Helena Wea dari Romba, melahirkan dua anak laki-laki (Bartoldus So’o Wea, Marianus Reo Wea, Klementina Yulita Sina Wea, Imelda Sina Wea, Rofina Sina Wea).
v Ignatius Legho menikah dengan Anna Opa, asal Giriwawo dan melahirkan tiga anak laki-laki (Yakob Ndona Opa, Bene Lodo Wende Opa, Aba Opa. Empat  anak Perempuan (Marsia Muku Opa, Kristina Fai Opa, Rosa Opa, Beka Opa).
v Silvester Goa menikah dengan Bebe, melahirkan dua anak laki-laki (Mus Soo Bebe, Hila Tay Bebe) dan tiga anak perempuan (Sima Ndu’a, Tefi Medi, Loni).
v Damianus Ta’a menikah dengan Germana Agho melahirkan tiga anak laki-laki (Pasi Ta’a, Frumen, Selly Ta’a) dan dua anak perempuan Lata dan……).
v Domi Juma menikah dengan…… melahirkan, …. Anak laki-laki dan ‘’’’ anak perempuan.
v Lanus Ta’a menikah dengan Rudi melahirkan …. Anak laki-laki dan …. Anak perempuan.
v Pada masa ini Komunitas masyarakat adat Jawawawo melakukan pemugaran kembali Peo.

GENERASI KEDELAPAN
Pada masa ini Suku Riwu Ngongo dikomandoi oleh bapak Agustinus Riwu (RIWU Pajo
v Sampai terbitnya buku ini, suku Riwu Ngongo masih dikepalai oleh Siprianus Nggajo. Pada generasi ini.

SEJARAH PEROLEHAN TANAH
1.     Tana Odo Watu Ebho: tanah ini diperoleh sejak awal kehadiran Riwu Ngongo di Jawawawo. Mekanisme perolehannya adalah dengan “Ponggo kaju waja, tete are una”[7] . buka hutan baru di wilayah Jawawawo yang kemudian berkembang menjadi sebuah kampung yang diberi nama Udu nunu eko sina (Jawawawo).
2.     Tanah Ekspansi
a.      Ketika Kolo-Sati masih mengelola Tana Odo Watu Ebho yang diwariskan Riwu Ngongo, keluarga Riwu Ngongo didatangi Batu Sebho. Dengan hati dan tangan terbuka Kolo-Sati menerima Batu Sebho masuk komunitas kampong Jawawawo (ndi’i dudhu mera gheo). Keluarga Batu Sebho diberi lahan untuk diolah guna menafkai hidup dan keluarganya yang sampai saat ini berada di bawah Suku Batu Sebho minus “tana fai watu ana”.[8]  Pada masa ini ada peristiwa ekspansi; Doke Dede dari Giriwawo meminta bantuan Kolo-Sati dan Batu Sebho menghadapi ulah Wawa Seka yang merusakkan tanaman milik Doke Dede. Atas bantuan Kolo-Sati dan Batu Sebho akhirnya Doke Dede menang, sedang Wawa Seka kalah atau dalam istilah setempat menjadi “udu tubu, woi po’i”[9]. Sebagai balas  jasa Kolo-Sati dan Batu Sebho yang telah membantu menumpas kejahatan Wawa Seka, Doke Dede mengajukan pernyataan terhadap Kolo-Sati dan Batu Sebho : Ena Mabha ko’o Wawa te, te’e ko’o nga’o mbue miu todo sopi”.[10] Hingga saat ini lahan di wilayah Mabha tersebut dikuasai oleh sebahagian orang Jawawawo dari udu Giriwawo sampai lereng gunung Koto.
b.     Tanah Pi’a Rogo
Tanah pi’a Rogo ini diperoleh dari hasil peperangan mengalahkan Rogo yang bermukim di Romba. Saat ini disebut Desa Romba Ua. Rogo Rabi adalah seorang pendatang yang menetap di Romba karena kawin dengan gadis darin Romba. Perolehan tanah ini terjadi pada masa generasinya ............. bersama dengan Embu Todi Wawi, Rangga Ame ari mereka bersekutu mengalahkan Rogorabi merebut tanah di wilayah Romba dan Ua sampai di pesisir Witu Mauara. Peristiwa ini memperluas wilayah tanah milik orang Jawawawo. Sehingga tanah milik orang jawawawo meliputi juga wilayah Romba Wawokota dan Ua sampai pesisir Witu Mauara sebeleh Timur. Dengan ungkapan adat  tentang kepemilikan tanah ini. “Udu mbe’i Kedi A’i ndeli mesi.” Artinya batas tanah berkembang dan diperluas menjadi Utara dibatasi dengan gunung Koto dan selatan dengan Laut Sawu. Peperangan terjadi karena sikap arogan Rogo Rabi yang sering melecehkan orang-orang asli di wilayah ini.   

c.      Tana Fai Watu Ana
Tana Fai watu Ana adalah tanah yang khusus diberikan kepada salah seorang Panglima perang yang berjasa. Oleh karena sebuah komitmen dalam perang seorang panglima perang telah mengorbankan istri dan anak-anaknya. Dalam sebuah kesempatan, ketika sedang mengejar musuh dan menghindari serangan sang Panglima tadi terhalang oleh kehadiran istrinya yang sedang mengandung anaknya. Tanpa berpikir panjang serta merta dia menikam istrinya dengan parang dan melanjutkan kegiatan perangnya. Nama panglima itu ialah (Rangga Ame Ari……… lokasinya di…….).   [11]
d.      

v  









[1] Wawancara, dengan nara sumberBp.Siprianus Nggajo   Kepala Suku Riwu Ngongo dan  tua adat komunitas masyarakat adat Jawawawo, generasi keenam suku Riwu ngongo.
[2] Ana mera artinya anak dari pihak saudari yang dikembalikan ke pihak om untuk kembali memegang hak warisan di rumah dan suku om. Status ana mera, sama haknya dengan anak laki-laki dari suku om.

[3] Ibid
[4] Ibid.
[5] Sao Ae nggae kaju, wesi peni kema ngema, sutu api pui mbeku artinya status Mere Mbewu dan anak cucunya di tengah suku Riwu Ngongo, bukan anak, tapi orang luar yang sewaktu-waktu bias  diusir pergi dari rumah atau suku Riwu Ngongo. Selama Mere Mbewu dan anak cucunya masih setia dengan perjannian awal itu, dan sejauh Kepala Suku Riwu Ngongo dan anak cucunya masih menaruh kasihan pada Mere Mbewu, maka dia masih boleh berada bersama suku.
[6] Bangunan khas adat nagekeo yang ditempatkan di tengah kampong sebagai pusat kehidupan social, agama, kebudayaan dan politik dan ekonomi komunitas masyarakat Jawawawo, lambang kekuatan dan keyakinan masyarakat Jawawawo.
[7] Ponggo kaju waja, tete are una artinya: membuka lahan  baru yang belum pernah terjamah orang lain dengan menebang hutan rimba untuk dijadikan lahan sekaligus menjadi hak milik. Ponggo kaju waja = menebang pohon kayu yang sangat tua usianya. Tete are una = menetak tali temali hutan belantara.
[8] Tana fai watu ana, tanah yang diperoleh dari hasil perang mengalahkan Rogo Rabi di Romba.
[9] udu tubu, woi po’I artinya Wawa Seka kalah dan tewas dalam peperangan melawan Doke Dede yang dibantu Kolo-Sati dan Batu Sebho.
[10] Ena mabha ko’o Wawa te, te’e ko’o nga’o mbue miu todo sopi. Pata ko’o Doke Dede. Terjemahan lurusnya,  Di dataran tempatnya Wawa ini, tikarnya manjadi asset milik saya, sedangkan kacang jemuran boleh diangkut semua kita. Artinya di dataran tersebut, hak sebagai tuan tanah tetap di tangan Doke dede, sedangkan hak untuk menggarap dan memiliki tanah melekat pada setiap orang yang ikut ambil bagian menumpas Wawa Seka.
[11] Wawancara dengan Andreas Goa, Kepala suku Batu Sebho pada tanggal……..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERAYAAN EKARISTI KAUL KEKAL

SYAIR LAMAHOLOT LAMAOLE

Peletak dasar kampung Jawawawo